Senin, 04 Februari 2013

Sholat Jenazah Pertamaku di Kampung Pengabdian



Pagi itu aku dikejutkan dengan suara lelaki dari balik pintu yang memanggil-manggil bapak housefamku. Dari nafasnya yang terdengar tersengal, sepertinya ada kabar yang teramat penting yang hendak ia sampaikan kepada bapak.
“Pak Imam... Pak Imam...”. Panggil lelaki itu sembari memukulkan tangannya ke punggung pintu rumah.
            “Siapa pagi-pagi buta begini sudah teriak-teriak?”. Gumamku.
Saat kuarahkan pandanganku ke arah jam, terlihat jarum pendeknya masih berada di antara angka lima dan enam. Kondisi yang masih cukup gelap untuk wilayah Sumatera. Tak lama kemudian terdengar bapak berjalan menuju sumber suara itu.
“O mas Fajar to, ada apa mas?” Tanya bapak sambil membuka pintu.
“Minta maaf ini Pak pagi-pagi sudah mengganggu. Anu Pak.. mau minta tolong”.
“Minta tolong apa?” Tanya Pak Imam penasaran.
“Anaknya mas Joko yang baru lahir meninggal Pak, jadi minta tolong agar Pak Imam mengumumkannya ke masyarakat, sekaligus nanti minta tolong Pak Imam membantu mengurus jenazahnya”. Pinta Mas Fajar yang merupakan adik kandung dari Pak Joko.
Bapak adalah salah seorang warga yang ditokohkan di kampung ini, sehingga sudah menjadi kebiasaan jika ada pengumuman apapun yang hendak disampaikan kepada masyarakat, bapaklah yang menjadi penyambung lidah melalui pengeras suara yang ada di surau kecil yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah. Melalui pengeras suara sederhana itu, beritapun dengan cepatnya menyebar ke seluruh telinga masyarakat, termasuk berita berpulangnya anak Pak Joko.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi aku telah berada di rumah Pak Joko. Aku menawarkan diri untuk ikut melayat saat bapak hendak berangkat.
“Saya kan sudah menjadi warga sini Pak, jadi harus ikut membantu jika ada warga lain yang membutuhkan bantuan”. Ucapku meyakinkan bapak.
“Mari bapak-bapak sekalian, kita sholatkan jenazahnya.” Ucap Pak Sahid setelah selesai mengurus segala sesuatunya.
Pak Sahid adalah tokoh agama di kampung ini. Lelaki paruh baya yang bertubuh kecil dan berjenggot ini adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk mengurus masjid dan juga mengurus beberapa masalah agama lainnya, termasuk menikahkan orang dan mengurus jenazah. Terkadang aku sedikit merasa iba dengannya, karena ia tak mendapatkan upah apapun dari jasanya tersebut. Ia hanya diingat kalau sekiranya jasanya akan dibutuhkan.
Sekitar sepuluh menit menunggu, jumlah orang yang mau menyolatkan tak kunjung bertambah. Pak Sahidpun terlihat bingung ketika hendak mengatur shaf. Dari gerak-geriknya ia ingin mengatur barisan menjadi tiga shaf, merujuk pada Hadits Nabi yang mengatakan apabila jenazah disholatkan minimal tiga shaf, maka doanya akan dikabulkan. Tapi sepertinya keinginan tersebut takkan terwujud, mengingat di ruangan itu hanya terdapat empat orang yang sudah siap untuk menyolatkan, Pak Imam, aku, ayah almarhum, dan Pak Sahid sendiri. Padahal di luar rumah ada sekitar dua puluhan orang sedang duduk-duduk sambil mengisap benda kecil berkepala api yang melekat di sela-sela jari tangannya. Entahlah. Apakah mereka tidak bisa atau mungkin mereka belum tahu hukum dan keutamaan sholat jenazah.
Sepulang dari melayat, aku duduk termenung dan kembali memikirkan kejadian yang baru saja kualami. Tentang sholat jenazah yang masih terasa asing bagi sebagian besar masyarakat di perkampungan ini. Jika memang mereka tidak ikut melaksanakan sholat jenazah dikarenakan tidak bisa, apakah itu sepenuhnya salah mereka? Kalau bukan salah mereka, lantas siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan? Kalaupun seandainya mereka bisa namun masih enggan mengerjakannya karena tidak mengetahui keutamaannya, siapa juga yang harus disalahkan. Sementara jika kita menengok perilaku para pemuka agama di negeri ini, terutama mereka yang ada di departemen agama, mereka hanya sibuk mengurus perbedaan-perbedaan kecil yang justru dapat memecah belah ummat. Bukankah lebih baik jika mereka terjun langsung ke lapangan untuk sekadar mengajarkan ajaran Tuhan bagi mereka yang masih jarang tersentuh ilmu agama. Tapi tidak. Mengajarkan ilmu agama bukan hanya tugas para da’i atau pemuka agama, namun adalah tugas bagi setiap individu yang telah mendapatkan pengetahuan tentangnya. Mendidik adalah tugas setiap yang orang terdidik.

Kamis, 17 Januari 2013

Menggugat Tarbiyah



Dua bulan sudah aku berada di desa ini. Artinya, ditambah dua bulan selama pelatihan di Ibu Kota, genap sudah empat bulan aku tidak lagi merasakan __yang mereka menyebutnya__ tarbiyah. Tarbiyah yang selama kurang lebih empat tahun aku jalani. Ya, empat bulan sudah aku menjalani hidup di luar kebiasaanku sebelumnya ketika aku masih berstatus sebagai mahasiswa.
Dua bulan pertama aku merasakan seperti burung yang baru keluar dari sangkar, bebas sebebas-bebasnya. Aku bagai menemukan kembali sebuah keleluasaan yang mereka sebut sebagai HAM (Hak Asasi Manusia). Aku tak lagi terbebani oleh tugas-tugas yang selama ini menjadi rutinitas yang kadang memberatkanku. Ya, aku terbebas dari itu semua, terbebas dari aktivitas pekanan yang harus aku lunasi. Muroja’ah hafalan surat yang ada di juz 29 dan 30, membuat resume buku dan mempresentasikannya, infaq, evaluasi amalan harian selama seminggu, serta beberapa tugas lainnya.
Hal itulah yang mungkin juga yang dirasakan oleh mereka yang terlepas dari barisan ini. Mereka yang terlepas karena alasan sibuk dengan kuliah bagi yang masih mahasiswa, atau alasan geografis bagi mereka yang telah berhasil mengenakan toga dan kembali ke kampung asal mereka atau pergi ke tanah rantau. Memang terkadang aktivitas dalam” lingkaran kecil” itu kurang mengasyikkan atau bahkan membosankan. Dan mereka (yang saya sebutkan di atas tadi) pasti sepakat dengan apa yang telah aku tuturkan tersebut. Sehingga tak jarang orang yang ketika masih mahasiswa sangat aktif dalam tarbiyah, mendadak lenyap ketika telah bergelar sarjana. Karena merasa tidak memperoleh sesuatu yang berarti dari “lingkaran kecil itu”. Yang ada hanya keletihan dan kepenatan.
Memasuki bulan ketiga tenggelam dalam tradisi baru, kondisi batinkupun berubah. Aku mulai merasa gelisah dengan kebebasanku tersebut. Karena dengan aku tidak lagi bergelayut dengan tarbiyah, sedikit banyak telah memengaruhi aktivitas keseharianku. Alquran yang dulu aku bisa membacanya satu juz dalam sehari, kini aku membutuhkan waktu satu minggu. Dulu dalam seminggu aku mampu menyelesaikan bacaan buku minimal sebuah, kinipun menjadi semakin jarang. Belum lagi hafalanku, evaluasi amalan harianku, serta aktivitas-aktivitas lainnya yang dulu sering kulakukan, kini mulai merenggang. Untuk bangun dan terjaga di sepertiga malampun aku semakin jarang.
Semakin hari kegelisahan itu semakin tak terkendali. Entah dengan cara apa aku bisa mengembalikan kondisiku seperti sediakala. Empat bulan lalu, aku masih bercengkerama dengan teman-teman yang selalu kurindukan. Mempelajari kalam ilahi, saling menasehati, curhat, sambil menikmati kuliner yang tersaji. Sungguh suasana yang takkan tergantikan. Namun, kini aku terserak. Aku terpisah dari mereka setelah aku memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi guru SD di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota itu. Perekrutan Pengajar Muda yang diadakan oleh Indonesia Mengajar membuatku terlempar di belahan barat Indonesia, tepatnya di Kabupaten Tulang Bawang Barat, salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung. Ingin menyelami Indonesia lebih dalam, itulah tujuan awalku mengikuti program ini.
Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah hal yang sepele, namun tidak buatku. Bagiku ini adalah hal besar yang cukup membuatku resah siang dan malam. Lokasi desa yang terpencil tak menjadi masalah bagiku, jarak berapa kilopun akan kutempuh, kondisi daerah yang rawan konflikpun aku tak peduli, gulitanya malam akan kubelah, asalkan di daerah penempatan ini aku bisa tergabung kembali dalam “lingkaran kecil itu”. Itulah pintaku tiap selepas sembahku pada-Nya. Berharap Dia mendengar dan menjawab. Jika tidak, aku tak tahu apakah aku mampu bertahan lebih lama lagi, sebab bukan hanya ragaku yang kerontang, jiwakupun gersang dan butuh siraman hujan penyejuk.
Hampir empat bulan berjalan, jawaban itu tak kunjung tiba. Sementara kerinduanku terhadap ukhuwah yang ada dalam tarbiyah semakin membuncah, mengalahkan rindunya Qais terhadap Laila dalam kisah Laila Majnun. Terlebih lagi saat kaki ini melangkah menuju surau dan masjid di sekitar desa ini, seakan membuka lagi memori saat aku bersama teman-temanku dulu. Kewajiban dakwah memang aku tidak tinggalkan, setiap sore dan petang aku selalu mengajarkan kalimat Tuhan dan sunnah Rasul di TPA dan beberapa surau dan masjid yang ada, mengajarkan ilmu fiqih kepada mereka yang telah beranjak remaja, dan juga melalui mimbar jumat.  Namun, berbagi rasanya kurang lengkap tanpa mendapat bagian. Ibarat lilin, aku tak mau hanya menerangi orang lain sementaranya ia terlebur. Bukan hanya memberi ilmu yang aku inginkan, tapi juga diberi.
Aku ingin menggugat tarbiyah. Ya, menggugatnya. Karena ia telah menanamkan benih candu di hati dan otakku. Dan tanpanya kini aku layu, linglung, tersesat tanpa arah. Aku ingin menceburkan diri kembali dalam lautan dakwah itu. Sejenak kuteringat kalimat yang pernah terlontar dari Ustadz Fathi Yakan, bahwa pada hakikatnya bukan dakwah yang membutuhkan kita, melainkan kitalah yang membutuhkan dakwah sebagai kebaikan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Ada atau tidak adanya kita, aktivitas dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya. Jika ada yang gugur, Allah akan menggantinya dengan generasi baru yang lebih baik darinya.
Tuhan tidak tidur, Tuhan tidak tuli, dan Dia tahu siapa hamba-Nya yang benar-benar ingin menyelami agama-Nya. Doakupun terijabah. Di penghujung Desember 2012, berbekal surat mutasi dari murobbiku di kota asalku, aku berhasil menemui salah seorang ustadz yang selanjutnya akan menjadi murobbiku yang baru. Seperti yang aku ungkapkan sebelumnya, jarak tak menjadi masalah bagiku. Setiap pekannya aku harus menempuh dua jam perjalanan menggunakan motor melewati jalan yang licin, berbatu, dan berlumpur hanya untuk menghadiri “lingkaran kecil” itu. Selepas sholat Ashar aku berangkat, dan kembali ke rumah esok harinya. Karena tidak mungkin aku menerobos kebun karet di tengah malam seorang diri, selain kondisi jalan yang tidak bagus, daerah ini sangat rawan dengan perampokan.
Kini setelah aku berpulang ke tarbiyah, aku serasa menemukan kembali ketenangan dalam hidup, meskipun “lingkaran kecil” itu baru sekali kuikuti. Dan bagi mereka yang merasa tidak mendapatkan sesuatu yang berarti dari tarbiyah, sesungguhnya ia tak pandai meresapi makna tarbiyah itu. Tarbiyah yang entah kapan aku dulu mulai mengenalnya, hari dan tanggalnya tak lagi kuingat. Mungkin juga dengan kalian yang saat ini masih bercumbu dengan aktivitas tarbiyah. Dan ujungnyapun aku tak tahu, sampai kapan tarbiyah ini akan terus kualami dan kujalani. Hanya pesan dari murobbi baruku saat pertemuan perdanaku itu yang selalu kuingat, “tarbiyah itu sepanjang hayat”.

Sabtu, 01 Desember 2012

Kampung Karet



Pukul empat sore lebih tiga puluh menit aku sampai di desa itu, sebuah desa kecil di pedalaman Tulang Bawang Barat yang berjarak sekitar tiga jam naik motor dari ibu kota kabupaten, desa yang akan menjadi tempatku bermukim nanti selama menggali inspirasi empat belas bulan ke depan. Dan akhirnya aku benar-benar menyentuh dan merasakan dengan panca inderaku secara langsung tempat yang selama ini hanya aku tangkap beritanya melalui Arga, PM 3 yang akan aku gantikan. Desa Terang Agung, begitulah orang-orang menyebutnya.
Di sepanjang lintasan menuju perkampungan ini, terlihat sebuah pemandangan yang belum pernah aku temui sebelumnya selama hampir seperempat abad umurku. Barisan pohon karet yang tersusun rapi memenuhi setiap lahan penduduk di salah satu kabupaten di provinsi gajah ini. Sejenak aku berfikir, karena jasa orang-orang di kampung inilah orang-orang kaya di ibu kota sana bisa melakukan aktivitasnya dengan mudah, meskipun para manusia langit itu enggan menyadari. Jika diperhatikan dengan seksama, posisi pohon karet itu sedikit condong ke sebuah arah, seakan sedang menundukkan kepala kepada sang pencipta, sang pemberi kehidupan. Di sebagian lahan yang lain terlihat tanah yang tertupi oleh hamparan tanaman singkong yang tingginya baru mencapai setengah meter. Pemandangan itu terlihat sejauh mata ini memandang, bak melihat sebuah bentangan karpet hijau yang teramat panjang.
Beberapa hari di kampung karet ini, banyak buah pelajaran yang telah aku petik. Pelajaran yang membuatku semakin merasa bahwa selama ini aku kurang bersyukur atas nikmat Tuhan yang secara cuma-cuma telah dianugerahkan kepadaku. Nikmat yang__mungkin__kebanyakan orang juga mengabaikannya. Sebuah karunia yang kita baru merasakan betapa pentingnya ia ketika ia telah pergi. Ia adalah “air”. Ya, mungkin sebagian orang menanggap air adalah sesuatu yang biasa saja, tidak ada istimewanya, tapi tidak untuk masyarakat Tulang Bawang Barat, khususnya desa Terang Agung, kecamatan Gunung Terang. Saat kemarau menghampiri, sumur-sumurpun kering kerontang meskipun kedalamannya telah mencapai kurang lebih 20 meter, kedalaman yang sangat tidak lazim untuk sumur di daerah asalku, Sulawesi. Untuk sumur bor, masih sangat jarang didapatkan di kampung ini, alhasil air menjadi barang yang sangat berharga di sepanjang dataran rendah di Pulau Sumatera ini.
Kondisi semacam ini mebuat beberapa warga terpaksa mengambil air dari rumah warga lain yang sedikit lebih beruntung karena sumurnya tidak mengalami kekeringan, termasuk bapak angkatku. Setiap pagi dan petang, beliau terlihat siap dengan motor bebeknya dan tiga buah jerigen untuk mengambil air yang jaraknya sekitar 400 meter dari rumah. Beberapa kali akupun mencoba membantu bapak untuk mengambil air. Hal tersebut berdampak pada aktivitas keseharian kami yang berhubungan dengan air. Satu ember plastik ukuran sedang menjadi jatah perorang untuk membersihkan badan (baca: mandi), dan hanya satu kali bilasan bila sedang mencuci pakaian. Memang tidak ada kesepakatan tertulis atau terikrar dari kami terkait aturan ini, namun kesadaran akan mahalnya air akan muncul dengan sendirinya ketika kita mengalami langsung.
Sulitnya mendapatkan air tidak serta merta membuat warga kampung yang berpenghasilan dari getah karet dan singkong ini bersuka cita ketika musim penghujan tiba. Karena ternyata ada masalah baru yang muncul ketika daerah yang lahannya belum resmi ini diguyur hujan, yakni jalannya tidak bisa dilewati. Dan itu sudah menjadi tragedi yang pasti terjadi dalam tiap tahunnya. Belum lagi jika hujan turun saat malam hari atau pagi hari, sudah bisa dipastikan warga harus menunda pekerjaannya menyadap karet. Meskipun panennya tiga hari sekali, tapi proses menyadapnya harus setiap hari.
Setelah hampir sebulan aku merasakan kekurangan air di kampung ini, musim hujan-pun tiba. Dan benar apa yang mereka katakan, kondisi jalan yang tekstur tanahnya dari jenis tanah liat itu nyaris tak berbentuk karena telah berubah menjadi lumpur. Hanya truk pengangkut singkong yang mau tidak mau harus melintasi jalan tersebut, itupun terpaksa karena harus menyetor singkong ke lapak. Hal ini menyebabkan kondisi jalan semakin parah. Menembus sela-sela pohon karet menjadi pilihan utama bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki jika ingin melintas. Namun, karena seringnya dilewati, jalan setapak di dalam kebun karet itupun lama-kelamaan juga tak berbentuk. Anehnya, tidak ada upaya dari pemerintah setempat untuk memperbaiki kondisi jalan tersebut. Alasannya adalah yang tadi itu, bahwa tanah ini belum resmi, masih dalam sengketa.
Keadaan jalan yang licin dan berlumpur sering membuat pengendara sepeda motor terjatuh, atau bahkan tertanam. Terlebih pendatang seperti kami yang belum terlalu menguasai medan. Semua Pengajar Muda sebelum kami, PM III, pernah merasakan terjatuh dari kuda besi. “Belum dikatakan resmi menjadi orang Tulang Bawang Barat jika belum pernah jatuh dari motor.” Ucap salah seorang PM III saat bergurau dengan PM V. Dan baru beberapa hari di sini, sudah ada beberapa PM V yang mencicipi rasanya terjatuh dari motor. Meskipun aku belum pernah merasakannya, paling tidak aku pernah mengalami kejadian yang cukup memaksaku untuk menambak stok sabar dalam diriku, yaitu ketika kakiku harus menahan motor yang hampir terguling ketika melewati kubangan air yang warnanya mirip susu cokelat. Sepatu adidas putihku yang di hari sebelumnya aku cuci langsung berganti warna menjadi cokelat keabu-abuan.
Dua kondisi tersebut, musim hujan dan kemarau, sungguh bukan pilihan yang ideal. Tidak ada satu kondisi yang lebih baik dibanding kondisi lainnya. Dua-duanya dalah keputusan mutlak dari Tuhan yang harus dijalani, tentunya dengan perasaan legowo. Dan mereka (baca: warga Terang Agung) telah mengajariku bagaimana bersikap ikhlas dan tetap bersyukur dengan apapun yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Pastinya, selama empat belas bulan ke depan, akan ada banyak hal yang aku dapatkan dari kampung yang mereka sebut HTI (Hutan tanaman Industri) ini. Meskipun kampung ini tak seindah Pulau Hoga di Kabupaten Wakatobi, atau mungkin Halmahera Selatan yang selalu diagung-agungkan keindahannya oleh Pengajar Muda, namun aku yakin berjuta pengalaman berharga akan aku dapatkan di sini. Pengalaman yang tidak semua orang menjalaninya, entah karena tidak ada kesempatan atau tidak ada kemauan. Pengalaman yang takkan terbayarkan dengan apapun. Pengalaman yang bisa kuceritakan kepada anak cucuku kelak tubuh ini sudah mulai menua.

Jumat, 30 November 2012

Si Kutu Buku dari HTI



Tak pernah seharipun gadis berkulit hitam manis berambut lurus yang panjangnya di bawah bahu itu luput dari pandanganku. Entah itu pagi, siang, sore, bahkan sampai petang sekalipun. Mungkin akan menjadi sebuah hari yang abnormal jika sehari saja mata ini tak melihatnya.
Gadis cilik itu bernama Selviani. Gadis Lampung asli yang lebih akrab disapa Selvi atau Okta ini berasal dari keluarga sederhana, menyadap getah karet adalah pekerjaan sehari-hari orang tuanya. Ia adalah salah satu muridku di SDS Terang Agung yang kini tengah duduk di kelas V. Perawakannya kecil, sedikit pendiam, dan agak pemalu. Namun ketika telah mengenalnya lebih dekat, orang akan tahu bahwa sebenarnya dia adalah anak yang periang.
Sepintas, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Selvi dengan muridku yang lain. Semua terlihat biasa-biasa saja. Namun setelah hampir satu purnama aku tinggal di kawasan HTI (Hutan Tanaman Industri) Desa Terang Agung ini, tepatnya di rumah Kepala sekolah, aku baru bisa mendapati perbedaan itu. Selvi sedikit berbeda dengan muridku kebanyakan, bukan pada parasnya atau sifatnya yang pemalu, tapi pada kebiasaannya yang aku lihat tidak dimiliki oleh murid-muridku yang lain, dia adalah anak kutu buku. Jika tidak berlebihan, aku ingin mengatakan bahwa separuh dirinya adalah buku, melihatnya tak ubahnya dengan melihat buku.
Akupun teringat dengan ucapan Pak Anies Baswedan. Dia pernah mengatakan bahwa kedatangan kami (baca: Pengajar Muda) di sebuah daerah bukanlah semata-semata untuk mengajar anak-anak, tapi justru kamilah yang akan belajar banyak pada anak-anak. Belajar banyak hal dari mereka; belajar tersenyum, belajar ikhlas, belajar mengelola emosi, dan masih banyak lagi. “Kalian akan mendapatkan banyak inspirasi dari mereka.” Ucap Pak Anies memotivasi kami. Dan benar, belum genap sebulan aku di sini, aku telah mendapatkan inspirasi dahsyat dari muridku sendiri. Inspirasi untuk senantiasa rajin membaca.
Aku menjulukinya__dalam hati__sebagai kutu buku bukan tanpa alasan. Karena setiap aku melihatnya, kedua tangannya selalu memegang sebuah kumpulan kalimat yang tercetak rapi itu, kapanpun dan di manapun. Terkadang aku malu dan menghardik diriku sendiri. Semua koleksi buku yang yang tersusun di meja belajarku hampir semua belum khatam kubaca, termasuk buku Indonesia Mengajar jilid 1 dan 2. Padahal dalam sebulan sekali aku selalu menyempatkan diri untuk membeli buku, namun selalu mempunyai beribu alasan untuk untuk tidak menyempatkan diri membacanya hingga selesai. Ah.. guru macam apa aku ini.
Tengah hari usai pulang sekolah, Selvi mungkin hanya pulang untuk sekadar ganti baju dan makan siang. Setelah itu dia sudah tertangkap oleh mataku berdiri di depan perpustakaan mini yang ada di rumahku. Sebanyak 5.000 buku sumbangan dari Telkom itu menjadi makan siang keduanya, dan juga makan sore. Pernah suatu saat ketika matahari sangat membakar, usai pulang dari sekolah aku langsung sholat, makan siang, lalu istirahat di dalam kamar, begitu juga dengan keluarga housefamku; Bapak, Ibu, dan adikku Diva. Tak tahan menahan panas yang semakin menggila, akupun berniat keluar rumah untuk menikmati angin di bawah pohon karet sebelah rumah. Baru saja aku membuka pintu kamarku, sesosok gadis kecil itu telah duduk di sebuah kursi depan rak buku dengan sebuah buku yang sangat dinikmatinya. “Ini anak nggak butuh istirahat apa ya?” gumamku dalam hati.
“Lagi ngapain Selvi?” Tanyaku basa-basi sambil menuju pintu keluar.
“Lagi baca buku Pak.” Jawabnya sambil tetap menatap bukunya.
Kuanggap kebiasaan Selvi itu memang di luar kelaziman. Hidup jauh dari peradaban tidak lantas membuatnya pasrah hingga akhirnya bermalas-malasan. Justru keterbatasan itu yang ia jadikan motivasi untuk bisa bersaing dengan anak-anak di luar sana yang mungkin kondisinya lebih baik dibanding dengan HTI ini. Waktu yang biasanya digunakan untuk istirahat atau untuk bermain bagi anak-anak, ia manfaatkan untuk membaca, membaca, dan membaca. Hingga petangpun, ia masih dengan aktivitas yang sama. Terlebih lagi jika hari minggu tiba, gadis yang bercita-cita ingin menjadi polwan ini sudah memulai aktivitas membacanya sejak film kartun Doraemon mulai hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Entahlah, apakah saat terlelap ia bertemankan buku juga, aku tidak tahu.
Hingga pada suatu hari aku menghampirinya dan sejenak aku ajak ngobrol. “Kamu nggak capek baca terus?” Tanyaku sembari mengambil satu buah buku di rak.
“Tidak Pak.” Jawabnya singkat.
“Memang tujuan kamu membaca apa sih?” Tanyaku penasaran.
“Menambah wawasan saja Pak, terus supaya saya bisa membuat karya sendiri nanti.” Jawabnya malu-malu.
Jawaban itu seakan menjadi tamparan keras buatku, juga buat orang-orang yang sampai saat ini masih enggan membaca buku, yang lebih gemar membaca status di facebook dan twitter ketimbang buku atau sebuah artikel. Dan anak sekecil Selvi telah mengajariku, mengajariku untuk mencintai ilmu pengetahuan, meskipun dengan cara sederhana, yaitu dengan membaca buku.
Belakangan baru aku tahu bahwa Selvi tidak hanya rajin membaca buku, tapi juga kitab suci agamanya, Al Quran. Dibanding teman-teman seusianya, dia paling fasih mengeja kalimat Tuhan yang tersusun 30 juz tersebut. Dia juga salah satu murid TPA ku yang tidak pernah alpa datang ke bale-bale di halaman rumahku untuk mengaji. Saat ini dia telah sampai pada juz 22 di usianya yang baru menginjak 11 tahun. Tidak jarang aku minta dia membantuku mengajari anak-anak yang baru mengaji iqro’.
Bocah mungil itu sungguh telah menginspirasiku, ia telah mengajariku bagaimana memanfaatkan waktu, mengajariku bagaimana mencintai buku, mengajariku menyeimbangkan antara belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, dan mengajariku untuk tetap berprestasi. Ya, Selvi adalah anak yang berprestasi. Mungkin dari kegemarannya membaca itu membuatnya tidak pernah lepas dari predikat juara kelas semenjak mulai beranjak dari taman kanak-kanak, hanya sekali saja ia terpeleset menjadi runner up. Dan akupun semakin yakin bahwa masih banyak mutiara terpendam di seluruh pelosok negeri ini.____
Terang Agung, November 2012