Kamis, 28 Februari 2013

Kisah Delapan (Calon) Ahli Sains dari HTI




Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit, lima belas menit lagi lonceng akan dibunyikan yang menandakan pengerjaan soal Olimpiade Sains Kuark resmi dimulai. Namun kedelapan anak itu belum juga muncul. Sambil membagikan soal ke masing-masing pengawas di setiap ruangan, sesekali pandanganku kuarahkan ke pintu gerbang sekolah, berharap ada rombongan motor yang datang membawa kedelapan anak itu. Namun sampai lima menit berselang, aku tetap tidak mendapati tanda-tanda kedatangan kedelapan anak itu.
Kedelapan anak itu adalah murid-murid SDS Terang Agung yang akan mewakili sekolahnya untuk mengikuti Olimpiade sains tingkat nasional itu. Satu anak level satu, level tiga dua anak, dan sisanya level dua. Merekalah yang akan mewakili sekitar sembilan puluhan anak di sekolahnya. Sekadar ingin membuktikan bahwa meskipun mereka hidup di daerah terpencil, mereka mampu bersaing dengan murid-murid di sekolah lain.
Pukul delapan lewat dua puluh menit, dan kedelapan anak itu belum juga terlihat. Akupun mulai sedikit gusar, entah apa yang terjadi pada mereka. Pikirankupun semakin tak karuan. Padahal sehari sebelumnya aku sudah menyampaikan kepada mereka agar datang sebelum jam setengah delapan, karena harus mengurus daftar ulang dan hal-hal kecil lainnya.
Pagi itu, diantara seratus tiga belas peserta di kecamatan itu, tinggal delapan anak dari SDS Terang Agunglah yang belum datang, sementara peserta lain sudah berada di dalam ruangan dan telah bersiap untuk mengisi biodata di LJK.
“Mas Andi, mana murid-muridnya?” Beberapa kali pengawas bertanya kepadaku.
“Tunggu sebentar lagi ya Bu.” Jawabku meyakinkan.
Mungkin karena jarak SDS Terang Agung yang berada di kawasan HTI (Hutan Tanaman Industri) tersebut paling jauh dengan lokasi olimpiade dibanding sekolah-sekolah lain, sehingga mereka belum juga datang. Untuk sampai ke tempat olimpiade, murid-murid SDS Terang Agung tersebut harus menempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor melewati kebun karet. Ditambah lagi mereka harus melalui jalan yang nyaris tak berbentuk karena diguyur hujan beberapa hari.
Akan sangat disayangkan apabila mereka terlambat atau bahkan tidak jadi datang. Akan terasa sia-sia perjuangan mereka selama ini. Selama dua bulan terakhir ini, mereka selalu terlihat bersemangat mengikuti les yang rutin dilaksanakan setiap harinya. Usai pulang sekolah, tak lama kemudian mereka telah berada di depan rumahku dengan membawa komik kuarknya. Mereka tak peduli kendatipun harus melalui jalan berlumpur tiap harinya, meskipun terkadang aku batalkan jadwal les dikarenakan ada urusan lain yang harus aku selesaikan di luar desa. Tapi mereka tetap tak patah semangat, dan semangat itulah yang membuatku tak rela jika mereka harus gugur sebelum berperang. Semangat anak kampung yang mungkin tak dimiliki oleh anak-anak yang hidup di kota-kota besar. Benarlah apa yang dikatakan oleh Anies Baswedan, bahwa berada di atas sering memudahkan seseorang untuk bermimpi, dan berada di bawah itu sering membuat bermimpi itu jadi mimpi tersendiri.
Di tengah kegelisahanku tersebut, saat seluruh peserta se-Indonesia siap mengerjakan soal, tiba-tiba dari ujung gerbang terlihat lima buah sepeda motor memasuki halaman sekolah. Perlahan akupun mengenali wajah mereka. Itu mereka. Teriakku dalam hati. Akhirnya kedelapan anak itupun tiba dengan diantar oleh orang tua mereka, sebagian terlihat bonceng tiga, mungkin orang tuanya tak sempat mengantar. Akhirnya mereka masih punya waktu beberapa menit untuk daftar ulang dan mengisi biodata di LJK. Sungguh peristiwa yang mengingatkan pada sesosok Lintang dalam film laskar pelangi, dimana ia hampir saja terlambat mengikuti lomba dikarenakan dihadang buaya di tengah perjalanannya.
Satu hal lagi yang membuatku cukup heran dari kejadian itu, sebagian dari mereka datang dengan ditemani orang tua mereka. Mungkin itu hal biasa bagi sebagian besar orang, tapi tidak untuk masyarakat di dusun Terang Agung. Biasanya para orang tua lebih memilih menyadap getah karet ketimbang mengurus pendidikan anaknya. Mereka akan merasa rugi besar jika sehari saja tak mengambil getah karet yang merupakan mata pencaharian utama mereka. Mungkin saja hati mereka telah tergugah. Atau mungkin juga karena tidak ada pilihan lain bagi mereka, karena jika bukan mereka siapa lagi yang akan mengantar. Jelas tak mungkin jika mengharapkan guru-guru di sekolah mau mengantar, karena di sekolah tempat mereka belajar hanya ada lima orang guru, dan kelima-limanya adalah perempuan yang mempunyai anak kecil. Tapi yang jelas, kehadiran orang tua murid tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku, kebahagiaan karena menyaksikan orang tua yang mulai tergerak hatinya untuk membantu mewujudkan cita-cita anaknya.


Senin, 25 Februari 2013

Bersama TVS, Lalui Jalan Tak Beres



Siang itu adalah siang biasa. Sama seperti siang pada hari-hari biasanya, tak ada yang istimewa di siang itu. Langit, awan, dan udara juga sama. Mataharinya-pun sama, seperti hari-hari sebelumnya panasnya terasa menggigit ubun-ubun, meskipun pada saat itu bayangan benda masih lebih panjang dibanding benda aslinya. Tapi bukan panas yang itu, bukan panas yang pernah aku rasakan sewaktu aku berada di ibu kota atau kota-kota besar lainnya. Ini adalah jamahan langsung matahari, bukan karena radikal bebas yang telah memadati udara.
       Di siang yang sama seperti siang biasanya itu, aku kembali mengalami hal yang_juga_tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Untuk kesekian kalinya aku terjerembab ke dalam kubangan air bercampur lumpur yang warnanya tak jauh berbeda dengan susu cokelat. Dalam sekejap, pantofel hitam yang aku kenakan tak lagi berbentuk saat kaki ini mencoba menahan kuda besiku yang hampir saja menyelam ke dalam kubangan sedalam lutut orang dewasa itu. Dan siang itu akan menjadi sebuah kisah tersendiri yang akan melekat di amigdalaku meskipun sebenarnya kejadian seperti itu juga sering terjadi di siang-siang yang lain.
Meskipun matahari sangat membakar, namun tak berpengaruh banyak terhadap kondisi jalan di Tulang Bawang bagian Barat ini yang nyaris tak berbentuk akibat diguyur air pada setiap sore atau malam harinya. Saat air tertumpah dari langit, beberapa titik jalan menjelma menjadi aliran sungai dengan debit yang amat deras yang entah dari mana asalnya, dan sebagian titik yang lain tak ubahnya seperti sawah yang habis dibajak dan siap untuk ditanami padi. Meskipun bagiku ini aneh, tapi tidak bagi mereka, masyarakat pribumi (baca: Lampung) yang setahun sekali selalu mendapat suguhan yang sama.
Untungnya aku tak sendirian. Jika Oemar Bakri dengan sepeda kumbangnya, maka aku dengan bebek kecilku. Ya. Bebek berwarna merah itu telah menemani sepanjang perjalananku di tanah pengabdian ini. Berbagai kisah aku dengannya telah terajut dengan indah meskipun terkadang rasanya kurang indah. Meskipun terkadang aku melupakannya, bebek bermerek TVS itu selalu setia menemaniku dalam menaklukkan jalan tak beres di sepanjang kampung yang aku menyebutnya sebagai kampung peradaban ini. Kampung yang_mungkin_tak pernah sekalipun dikunjungi oleh para pemimpin di negara ini. Namun hasil kebunnya selalu dinikmati oleh mereka, para manusia langit.
Kisah di atas hanyalah sepenggal dari beberapa kisahku bersama motor investaris kantor itu. Pernah juga kejadian serupa menimpaku saat awal-awal aku menjamah kampung ini. Sepatu adidas putihku yang baru saja aku cuci seketika berubah warna menjadi cokelat saat aku memilih menginjakkan kaki di lumpur untuk menahan TVS yang hendak tersungkur ketimbang harus tubuhku yang bersentuhan langsung dengan lumpur itu. Dan semenjak saat itu, sepatu itu belum pernah lagi aku kenakan sampai detik ini. Mugkin sampai nanti saat musim panas menjelang.
Pernah juga aku terpaksa menjalankan kuda besi itu dengan kekuatan otot yang ada di tangan dan kakiku dikarenakan bannya bocor saat melintasi rimbunnya kebun karet. Selama kurang lebih setengah jam aku mendorongnya untuk berusaha keluar dari perkebunan itu dan mencari bengkel terdekat. Bukan hanya sekali, kejadian seperti itu acap kali berulang. Jalan terjal berbatu mungkin adalah penyebab utamanya. Kejadian lain seperti rantai lepas atau bahkan terputus di tengah perkebunan karet juga pernah kualami.
Kondisi jalan yang sangat buruk tersebut membuat TVS-ku sering keluar masuk rumah pesakitan motor. Andai saja dia mampu berucap, mungkin sudah lama dia bertutur bahwa dirinya telah mengalami kepayahan. Tubuhnya kini mulai ringkih, beberapa tulangnya sudah mulai retak, dan organ dalamnya sudah mulai tak normal lagi. Memang sudah waktunya untuk dia beristirahat, dari sejak zaman Pengajar Muda angkatan pertama, saat ini motor tersebut telah memasuki tahun ketiga dalam pengabdiannya. Ya. Bukan hanya kami Pengajar Muda yang_katanya_mengabdi, tapi juga TVS itu. Bahkan mungkin nilai pengabdiannya jauh lebih tinggi di atas kami.
Bersama TVS merah itu aku telah melalui semuanya. Melintasi jalan yang jarang atau bahkan takkan ditemui di kota-kota besar, kota tempat berakarnya orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat namun sering kali tak merakyat. Buktinya, sudah hampir berganti generasi, jalan di kampung ini tak kunjung diperbaiki. Dan bersama bebek merah itu aku tlah menaklukkan jalan yang sebenarnya tak layak disebut jalan. Kadang terbesit pertanyaan apakah daerah ini masih masuk dalam kawasan Indonesia atau bukan? Daerah ini sangat dekat sekaligus jauh dengan Pulau Jawa. Ya. Meskipun jaraknya tak begitu jauh dengan Pulau Jawa, namun kondisi pembangunannya amatlah jauh berbeda. Dan mungkin masih banyak daerah di sepanjang pantai republik ini dengan kondisi serupa yang sebenarnya merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya. Tapi entah kenapa kekayaan itu tak lantas membuat daerah itu maju dalam hal pembangunan. Ah sudahlah. Semua pasti ada hikmahnya. Paling tidak semua ini semakin membuatku mahir mengendarai sepeda bermesin itu. Sedikit memodifikasi tagline Indonesia mengajar, “setahun di Tulang Bawang Barat, seumur hidup lihai bersepeda motor”.

Senin, 04 Februari 2013

Sholat Jenazah Pertamaku di Kampung Pengabdian



Pagi itu aku dikejutkan dengan suara lelaki dari balik pintu yang memanggil-manggil bapak housefamku. Dari nafasnya yang terdengar tersengal, sepertinya ada kabar yang teramat penting yang hendak ia sampaikan kepada bapak.
“Pak Imam... Pak Imam...”. Panggil lelaki itu sembari memukulkan tangannya ke punggung pintu rumah.
            “Siapa pagi-pagi buta begini sudah teriak-teriak?”. Gumamku.
Saat kuarahkan pandanganku ke arah jam, terlihat jarum pendeknya masih berada di antara angka lima dan enam. Kondisi yang masih cukup gelap untuk wilayah Sumatera. Tak lama kemudian terdengar bapak berjalan menuju sumber suara itu.
“O mas Fajar to, ada apa mas?” Tanya bapak sambil membuka pintu.
“Minta maaf ini Pak pagi-pagi sudah mengganggu. Anu Pak.. mau minta tolong”.
“Minta tolong apa?” Tanya Pak Imam penasaran.
“Anaknya mas Joko yang baru lahir meninggal Pak, jadi minta tolong agar Pak Imam mengumumkannya ke masyarakat, sekaligus nanti minta tolong Pak Imam membantu mengurus jenazahnya”. Pinta Mas Fajar yang merupakan adik kandung dari Pak Joko.
Bapak adalah salah seorang warga yang ditokohkan di kampung ini, sehingga sudah menjadi kebiasaan jika ada pengumuman apapun yang hendak disampaikan kepada masyarakat, bapaklah yang menjadi penyambung lidah melalui pengeras suara yang ada di surau kecil yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah. Melalui pengeras suara sederhana itu, beritapun dengan cepatnya menyebar ke seluruh telinga masyarakat, termasuk berita berpulangnya anak Pak Joko.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi aku telah berada di rumah Pak Joko. Aku menawarkan diri untuk ikut melayat saat bapak hendak berangkat.
“Saya kan sudah menjadi warga sini Pak, jadi harus ikut membantu jika ada warga lain yang membutuhkan bantuan”. Ucapku meyakinkan bapak.
“Mari bapak-bapak sekalian, kita sholatkan jenazahnya.” Ucap Pak Sahid setelah selesai mengurus segala sesuatunya.
Pak Sahid adalah tokoh agama di kampung ini. Lelaki paruh baya yang bertubuh kecil dan berjenggot ini adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk mengurus masjid dan juga mengurus beberapa masalah agama lainnya, termasuk menikahkan orang dan mengurus jenazah. Terkadang aku sedikit merasa iba dengannya, karena ia tak mendapatkan upah apapun dari jasanya tersebut. Ia hanya diingat kalau sekiranya jasanya akan dibutuhkan.
Sekitar sepuluh menit menunggu, jumlah orang yang mau menyolatkan tak kunjung bertambah. Pak Sahidpun terlihat bingung ketika hendak mengatur shaf. Dari gerak-geriknya ia ingin mengatur barisan menjadi tiga shaf, merujuk pada Hadits Nabi yang mengatakan apabila jenazah disholatkan minimal tiga shaf, maka doanya akan dikabulkan. Tapi sepertinya keinginan tersebut takkan terwujud, mengingat di ruangan itu hanya terdapat empat orang yang sudah siap untuk menyolatkan, Pak Imam, aku, ayah almarhum, dan Pak Sahid sendiri. Padahal di luar rumah ada sekitar dua puluhan orang sedang duduk-duduk sambil mengisap benda kecil berkepala api yang melekat di sela-sela jari tangannya. Entahlah. Apakah mereka tidak bisa atau mungkin mereka belum tahu hukum dan keutamaan sholat jenazah.
Sepulang dari melayat, aku duduk termenung dan kembali memikirkan kejadian yang baru saja kualami. Tentang sholat jenazah yang masih terasa asing bagi sebagian besar masyarakat di perkampungan ini. Jika memang mereka tidak ikut melaksanakan sholat jenazah dikarenakan tidak bisa, apakah itu sepenuhnya salah mereka? Kalau bukan salah mereka, lantas siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan? Kalaupun seandainya mereka bisa namun masih enggan mengerjakannya karena tidak mengetahui keutamaannya, siapa juga yang harus disalahkan. Sementara jika kita menengok perilaku para pemuka agama di negeri ini, terutama mereka yang ada di departemen agama, mereka hanya sibuk mengurus perbedaan-perbedaan kecil yang justru dapat memecah belah ummat. Bukankah lebih baik jika mereka terjun langsung ke lapangan untuk sekadar mengajarkan ajaran Tuhan bagi mereka yang masih jarang tersentuh ilmu agama. Tapi tidak. Mengajarkan ilmu agama bukan hanya tugas para da’i atau pemuka agama, namun adalah tugas bagi setiap individu yang telah mendapatkan pengetahuan tentangnya. Mendidik adalah tugas setiap yang orang terdidik.

Kamis, 17 Januari 2013

Menggugat Tarbiyah



Dua bulan sudah aku berada di desa ini. Artinya, ditambah dua bulan selama pelatihan di Ibu Kota, genap sudah empat bulan aku tidak lagi merasakan __yang mereka menyebutnya__ tarbiyah. Tarbiyah yang selama kurang lebih empat tahun aku jalani. Ya, empat bulan sudah aku menjalani hidup di luar kebiasaanku sebelumnya ketika aku masih berstatus sebagai mahasiswa.
Dua bulan pertama aku merasakan seperti burung yang baru keluar dari sangkar, bebas sebebas-bebasnya. Aku bagai menemukan kembali sebuah keleluasaan yang mereka sebut sebagai HAM (Hak Asasi Manusia). Aku tak lagi terbebani oleh tugas-tugas yang selama ini menjadi rutinitas yang kadang memberatkanku. Ya, aku terbebas dari itu semua, terbebas dari aktivitas pekanan yang harus aku lunasi. Muroja’ah hafalan surat yang ada di juz 29 dan 30, membuat resume buku dan mempresentasikannya, infaq, evaluasi amalan harian selama seminggu, serta beberapa tugas lainnya.
Hal itulah yang mungkin juga yang dirasakan oleh mereka yang terlepas dari barisan ini. Mereka yang terlepas karena alasan sibuk dengan kuliah bagi yang masih mahasiswa, atau alasan geografis bagi mereka yang telah berhasil mengenakan toga dan kembali ke kampung asal mereka atau pergi ke tanah rantau. Memang terkadang aktivitas dalam” lingkaran kecil” itu kurang mengasyikkan atau bahkan membosankan. Dan mereka (yang saya sebutkan di atas tadi) pasti sepakat dengan apa yang telah aku tuturkan tersebut. Sehingga tak jarang orang yang ketika masih mahasiswa sangat aktif dalam tarbiyah, mendadak lenyap ketika telah bergelar sarjana. Karena merasa tidak memperoleh sesuatu yang berarti dari “lingkaran kecil itu”. Yang ada hanya keletihan dan kepenatan.
Memasuki bulan ketiga tenggelam dalam tradisi baru, kondisi batinkupun berubah. Aku mulai merasa gelisah dengan kebebasanku tersebut. Karena dengan aku tidak lagi bergelayut dengan tarbiyah, sedikit banyak telah memengaruhi aktivitas keseharianku. Alquran yang dulu aku bisa membacanya satu juz dalam sehari, kini aku membutuhkan waktu satu minggu. Dulu dalam seminggu aku mampu menyelesaikan bacaan buku minimal sebuah, kinipun menjadi semakin jarang. Belum lagi hafalanku, evaluasi amalan harianku, serta aktivitas-aktivitas lainnya yang dulu sering kulakukan, kini mulai merenggang. Untuk bangun dan terjaga di sepertiga malampun aku semakin jarang.
Semakin hari kegelisahan itu semakin tak terkendali. Entah dengan cara apa aku bisa mengembalikan kondisiku seperti sediakala. Empat bulan lalu, aku masih bercengkerama dengan teman-teman yang selalu kurindukan. Mempelajari kalam ilahi, saling menasehati, curhat, sambil menikmati kuliner yang tersaji. Sungguh suasana yang takkan tergantikan. Namun, kini aku terserak. Aku terpisah dari mereka setelah aku memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi guru SD di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota itu. Perekrutan Pengajar Muda yang diadakan oleh Indonesia Mengajar membuatku terlempar di belahan barat Indonesia, tepatnya di Kabupaten Tulang Bawang Barat, salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung. Ingin menyelami Indonesia lebih dalam, itulah tujuan awalku mengikuti program ini.
Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah hal yang sepele, namun tidak buatku. Bagiku ini adalah hal besar yang cukup membuatku resah siang dan malam. Lokasi desa yang terpencil tak menjadi masalah bagiku, jarak berapa kilopun akan kutempuh, kondisi daerah yang rawan konflikpun aku tak peduli, gulitanya malam akan kubelah, asalkan di daerah penempatan ini aku bisa tergabung kembali dalam “lingkaran kecil itu”. Itulah pintaku tiap selepas sembahku pada-Nya. Berharap Dia mendengar dan menjawab. Jika tidak, aku tak tahu apakah aku mampu bertahan lebih lama lagi, sebab bukan hanya ragaku yang kerontang, jiwakupun gersang dan butuh siraman hujan penyejuk.
Hampir empat bulan berjalan, jawaban itu tak kunjung tiba. Sementara kerinduanku terhadap ukhuwah yang ada dalam tarbiyah semakin membuncah, mengalahkan rindunya Qais terhadap Laila dalam kisah Laila Majnun. Terlebih lagi saat kaki ini melangkah menuju surau dan masjid di sekitar desa ini, seakan membuka lagi memori saat aku bersama teman-temanku dulu. Kewajiban dakwah memang aku tidak tinggalkan, setiap sore dan petang aku selalu mengajarkan kalimat Tuhan dan sunnah Rasul di TPA dan beberapa surau dan masjid yang ada, mengajarkan ilmu fiqih kepada mereka yang telah beranjak remaja, dan juga melalui mimbar jumat.  Namun, berbagi rasanya kurang lengkap tanpa mendapat bagian. Ibarat lilin, aku tak mau hanya menerangi orang lain sementaranya ia terlebur. Bukan hanya memberi ilmu yang aku inginkan, tapi juga diberi.
Aku ingin menggugat tarbiyah. Ya, menggugatnya. Karena ia telah menanamkan benih candu di hati dan otakku. Dan tanpanya kini aku layu, linglung, tersesat tanpa arah. Aku ingin menceburkan diri kembali dalam lautan dakwah itu. Sejenak kuteringat kalimat yang pernah terlontar dari Ustadz Fathi Yakan, bahwa pada hakikatnya bukan dakwah yang membutuhkan kita, melainkan kitalah yang membutuhkan dakwah sebagai kebaikan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Ada atau tidak adanya kita, aktivitas dakwah akan terus berputar bersama orang-orang yang konsisten berjuang di dalamnya. Jika ada yang gugur, Allah akan menggantinya dengan generasi baru yang lebih baik darinya.
Tuhan tidak tidur, Tuhan tidak tuli, dan Dia tahu siapa hamba-Nya yang benar-benar ingin menyelami agama-Nya. Doakupun terijabah. Di penghujung Desember 2012, berbekal surat mutasi dari murobbiku di kota asalku, aku berhasil menemui salah seorang ustadz yang selanjutnya akan menjadi murobbiku yang baru. Seperti yang aku ungkapkan sebelumnya, jarak tak menjadi masalah bagiku. Setiap pekannya aku harus menempuh dua jam perjalanan menggunakan motor melewati jalan yang licin, berbatu, dan berlumpur hanya untuk menghadiri “lingkaran kecil” itu. Selepas sholat Ashar aku berangkat, dan kembali ke rumah esok harinya. Karena tidak mungkin aku menerobos kebun karet di tengah malam seorang diri, selain kondisi jalan yang tidak bagus, daerah ini sangat rawan dengan perampokan.
Kini setelah aku berpulang ke tarbiyah, aku serasa menemukan kembali ketenangan dalam hidup, meskipun “lingkaran kecil” itu baru sekali kuikuti. Dan bagi mereka yang merasa tidak mendapatkan sesuatu yang berarti dari tarbiyah, sesungguhnya ia tak pandai meresapi makna tarbiyah itu. Tarbiyah yang entah kapan aku dulu mulai mengenalnya, hari dan tanggalnya tak lagi kuingat. Mungkin juga dengan kalian yang saat ini masih bercumbu dengan aktivitas tarbiyah. Dan ujungnyapun aku tak tahu, sampai kapan tarbiyah ini akan terus kualami dan kujalani. Hanya pesan dari murobbi baruku saat pertemuan perdanaku itu yang selalu kuingat, “tarbiyah itu sepanjang hayat”.

Sabtu, 01 Desember 2012

Kampung Karet



Pukul empat sore lebih tiga puluh menit aku sampai di desa itu, sebuah desa kecil di pedalaman Tulang Bawang Barat yang berjarak sekitar tiga jam naik motor dari ibu kota kabupaten, desa yang akan menjadi tempatku bermukim nanti selama menggali inspirasi empat belas bulan ke depan. Dan akhirnya aku benar-benar menyentuh dan merasakan dengan panca inderaku secara langsung tempat yang selama ini hanya aku tangkap beritanya melalui Arga, PM 3 yang akan aku gantikan. Desa Terang Agung, begitulah orang-orang menyebutnya.
Di sepanjang lintasan menuju perkampungan ini, terlihat sebuah pemandangan yang belum pernah aku temui sebelumnya selama hampir seperempat abad umurku. Barisan pohon karet yang tersusun rapi memenuhi setiap lahan penduduk di salah satu kabupaten di provinsi gajah ini. Sejenak aku berfikir, karena jasa orang-orang di kampung inilah orang-orang kaya di ibu kota sana bisa melakukan aktivitasnya dengan mudah, meskipun para manusia langit itu enggan menyadari. Jika diperhatikan dengan seksama, posisi pohon karet itu sedikit condong ke sebuah arah, seakan sedang menundukkan kepala kepada sang pencipta, sang pemberi kehidupan. Di sebagian lahan yang lain terlihat tanah yang tertupi oleh hamparan tanaman singkong yang tingginya baru mencapai setengah meter. Pemandangan itu terlihat sejauh mata ini memandang, bak melihat sebuah bentangan karpet hijau yang teramat panjang.
Beberapa hari di kampung karet ini, banyak buah pelajaran yang telah aku petik. Pelajaran yang membuatku semakin merasa bahwa selama ini aku kurang bersyukur atas nikmat Tuhan yang secara cuma-cuma telah dianugerahkan kepadaku. Nikmat yang__mungkin__kebanyakan orang juga mengabaikannya. Sebuah karunia yang kita baru merasakan betapa pentingnya ia ketika ia telah pergi. Ia adalah “air”. Ya, mungkin sebagian orang menanggap air adalah sesuatu yang biasa saja, tidak ada istimewanya, tapi tidak untuk masyarakat Tulang Bawang Barat, khususnya desa Terang Agung, kecamatan Gunung Terang. Saat kemarau menghampiri, sumur-sumurpun kering kerontang meskipun kedalamannya telah mencapai kurang lebih 20 meter, kedalaman yang sangat tidak lazim untuk sumur di daerah asalku, Sulawesi. Untuk sumur bor, masih sangat jarang didapatkan di kampung ini, alhasil air menjadi barang yang sangat berharga di sepanjang dataran rendah di Pulau Sumatera ini.
Kondisi semacam ini mebuat beberapa warga terpaksa mengambil air dari rumah warga lain yang sedikit lebih beruntung karena sumurnya tidak mengalami kekeringan, termasuk bapak angkatku. Setiap pagi dan petang, beliau terlihat siap dengan motor bebeknya dan tiga buah jerigen untuk mengambil air yang jaraknya sekitar 400 meter dari rumah. Beberapa kali akupun mencoba membantu bapak untuk mengambil air. Hal tersebut berdampak pada aktivitas keseharian kami yang berhubungan dengan air. Satu ember plastik ukuran sedang menjadi jatah perorang untuk membersihkan badan (baca: mandi), dan hanya satu kali bilasan bila sedang mencuci pakaian. Memang tidak ada kesepakatan tertulis atau terikrar dari kami terkait aturan ini, namun kesadaran akan mahalnya air akan muncul dengan sendirinya ketika kita mengalami langsung.
Sulitnya mendapatkan air tidak serta merta membuat warga kampung yang berpenghasilan dari getah karet dan singkong ini bersuka cita ketika musim penghujan tiba. Karena ternyata ada masalah baru yang muncul ketika daerah yang lahannya belum resmi ini diguyur hujan, yakni jalannya tidak bisa dilewati. Dan itu sudah menjadi tragedi yang pasti terjadi dalam tiap tahunnya. Belum lagi jika hujan turun saat malam hari atau pagi hari, sudah bisa dipastikan warga harus menunda pekerjaannya menyadap karet. Meskipun panennya tiga hari sekali, tapi proses menyadapnya harus setiap hari.
Setelah hampir sebulan aku merasakan kekurangan air di kampung ini, musim hujan-pun tiba. Dan benar apa yang mereka katakan, kondisi jalan yang tekstur tanahnya dari jenis tanah liat itu nyaris tak berbentuk karena telah berubah menjadi lumpur. Hanya truk pengangkut singkong yang mau tidak mau harus melintasi jalan tersebut, itupun terpaksa karena harus menyetor singkong ke lapak. Hal ini menyebabkan kondisi jalan semakin parah. Menembus sela-sela pohon karet menjadi pilihan utama bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki jika ingin melintas. Namun, karena seringnya dilewati, jalan setapak di dalam kebun karet itupun lama-kelamaan juga tak berbentuk. Anehnya, tidak ada upaya dari pemerintah setempat untuk memperbaiki kondisi jalan tersebut. Alasannya adalah yang tadi itu, bahwa tanah ini belum resmi, masih dalam sengketa.
Keadaan jalan yang licin dan berlumpur sering membuat pengendara sepeda motor terjatuh, atau bahkan tertanam. Terlebih pendatang seperti kami yang belum terlalu menguasai medan. Semua Pengajar Muda sebelum kami, PM III, pernah merasakan terjatuh dari kuda besi. “Belum dikatakan resmi menjadi orang Tulang Bawang Barat jika belum pernah jatuh dari motor.” Ucap salah seorang PM III saat bergurau dengan PM V. Dan baru beberapa hari di sini, sudah ada beberapa PM V yang mencicipi rasanya terjatuh dari motor. Meskipun aku belum pernah merasakannya, paling tidak aku pernah mengalami kejadian yang cukup memaksaku untuk menambak stok sabar dalam diriku, yaitu ketika kakiku harus menahan motor yang hampir terguling ketika melewati kubangan air yang warnanya mirip susu cokelat. Sepatu adidas putihku yang di hari sebelumnya aku cuci langsung berganti warna menjadi cokelat keabu-abuan.
Dua kondisi tersebut, musim hujan dan kemarau, sungguh bukan pilihan yang ideal. Tidak ada satu kondisi yang lebih baik dibanding kondisi lainnya. Dua-duanya dalah keputusan mutlak dari Tuhan yang harus dijalani, tentunya dengan perasaan legowo. Dan mereka (baca: warga Terang Agung) telah mengajariku bagaimana bersikap ikhlas dan tetap bersyukur dengan apapun yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Pastinya, selama empat belas bulan ke depan, akan ada banyak hal yang aku dapatkan dari kampung yang mereka sebut HTI (Hutan tanaman Industri) ini. Meskipun kampung ini tak seindah Pulau Hoga di Kabupaten Wakatobi, atau mungkin Halmahera Selatan yang selalu diagung-agungkan keindahannya oleh Pengajar Muda, namun aku yakin berjuta pengalaman berharga akan aku dapatkan di sini. Pengalaman yang tidak semua orang menjalaninya, entah karena tidak ada kesempatan atau tidak ada kemauan. Pengalaman yang takkan terbayarkan dengan apapun. Pengalaman yang bisa kuceritakan kepada anak cucuku kelak tubuh ini sudah mulai menua.