Kamis, 15 November 2012

Sebut Saja Ini Sekolah



Tidak lebih bagus dan tidak lebih buruk dari SD Muhammadiyah Gantong. Demikianlah jika aku diminta mendeskripsikan sekolah tempatku _sebut saja_ mengajar. Sekolah tersebut berada di sebuah desa kecil yang bernama Terang Agung, Kecamatan Gunung Terang, sekitar dua setengah jam naik motor dari Ibu Kota Kabupaten Tulang Bawang Barat dan empat sampai lima jam dari Bandar Lampung. Sejatinya, bangunan itu belum layak untuk disebut sebagai sekolah, betapa tidak, gedung tersebut hanya berdindingkan papan yang sudah mulai lapuk termakan oleh rayap, beratapkan seng yang sudah usang, tanpa plafon, dan tanpa ada satupun ventilasi yang dapat membawa aliran udara keluar masuk ruangan. Alhasil, bisa dipastikan siapapun akan bermandikan peluh ketika berada dalam ruangan tersebut, bahkan hanya untuk beberapa menit sekalipun. Ditambah lagi suhu yang kira-kira mencapai 37oC semakin membuat isi kepala ini seakan mendidih. Maka tak jarang aku membawa anak-anak untuk ke luar ruangan dan memilih untuk belajar di bawah pohon karet yang berada tak jauh dari kelasku. Dan ternyata cara ini justru lebih disenangi oleh mereka. Ya, ternyata alam lebih bersahabat dengan kita.
Masih soal sekolahku, gedung satu lokal itu sebenarnya hanya terdiri dari empat ruangan yang masing-masing ruangan mempunyai luas sekitar 4x6 m. Di antara ruangan terdapat  sekat papan seadanya setinggi orang dewasa berdiri sebagai pembatasnya. Suara lantang sangat mutlak dibutuhkan saat mengajar di dalam kelas, jika tidak, maka pekikan siswa di kelas sebelah akan menenggelamkan suara kita. Belum lagi jarangnya sekat antar ruangan yang menyebabkan siswa dapat dengan mudah bertransmigrasi ke ruangan lain, semakin menguji kesabaran guru di sekolah ini, termasuk diriku.
Sekolahku adalah satu-satunya sekolah dasar swasta di Kecamatan Gunung Terang di antara 23 sekolah dasar yang ada. Sekolah tersebut berdiri dari hasil swadaya masyarakat setempat. “Sekolah akar”, demikianlah beberapa orang menamainya, merujuk pada sebuah peribahasa “tak ada rotan akarpun jadi”. Di sekolah tersebut terdapat tujuh tenaga pengajar termasuk kepala sekolah. Lima perempuan, dua laki-laki, dan kesemuanya adalah tenaga honorer. Hal inilah yang terkadang menyebabkan kurangnya disiplin _sebagian_ para tenaga pengajar dalam menjalankan tugas, karena mereka harus mencari nafkah lain__nyadap getah karet__untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidupnya. Terlebih lagi tidak ada di antara mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan, rata-rata hanya keluaran SMA, hanya satu lulusan D II dan satu PGSMTP. Tak pelak, akulah satu-satunya guru yang paling sering  dilihat siswa berdiri tegak dengan tangan siap memukul lonceng pada saat jarum jam menunjukkan pukul 07.30.
Sekolah tersebut memang sangat memprihatinkan, tetapi bukan berarti tidak ada usaha dari pihak sekolah atau masyarakat untuk membangun sekolah tersebut. Kerap kali kepala sekolah dan komite mengajukan bantuan pembangunan gedung ke Pemerintah Daerah, namun apalah daya, usaha tersebut selalu kandas, alasannya adalah tanah tempat sekolah tersebut menancap adalah tanah sengketa. Alasan tersebut memang bukan mengada-ada, karena memang desa Terang Agung adalah desa yang berdiri di kawasan bekas HTI (Hutan Tanaman Industri), sehingga sampai saat ini pemerintah masih enggan mengucurkan bantuan pembangunan gedung yang layak dipakai untuk proses belajar mengajar. Pun dengan tenaga pengajar, pihak sekolah juga sering meminta bantuan ke Dinas Pendidikan untuk dikirimkan tenaga pengajar ke sekolah tersebut, namun tak satupun PNS di kabupaten ini yang bersedia ditugaskan di sekolah tersebut, meskipun diming-iming jabatan kepala sekolah sekalipun. Kondisi geografislah yang menjadi alasannya. HTI merupakan daerah terdalam, terpencil, belum tersentuh aliran listrik, dan kondisi jalan yang sangat sulit untuk disebut bagus. Saat musim penghujan tiba selalu banjir, sehingga kondisi jalan menjadi berlumpur bak sawah yang siap untuk ditanami benih padi, atau seperti medan yang sering digunakan untuk lintasan offroad, dan saat musim kemarau tiba berubah menjadi gurun pasir yang diceraikan air.
Ah, mungkin aku terlalu menilai kondisi sekolahku dari sisi negatifnya. Bukankah sisi positifnya juga tak kalah banyak. Lebih baik aku melihat sisi itu. Ya, meskipun kondisi sekolahku sangat jauh di bawah sekolah-sekolah yang lain, namun semangat anak-anak tetap melejit untuk belajar mengeja huruf-huruf dan mengenal angka. Itulah yang membuatku tetap tersenyum dalam menjalani pengabdianku di desa ini. Mereka memang anak kampung, dekil, dan mungkin katro, tapi aku sangat yakin semangat tak kalah membumbung tinggi ketimbang mereka yang berada di kota besar yang di sekolahnya lengkap dengan fasilitas modern. Semangat inilah yang aku harapkan nantinya mampu mengantarkan mereka menggapai cita-cita yang mereka impikan. Paling tidak, mereka tidak terbunuh oleh keputusasaan mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar