Senin, 15 Oktober 2012

Menakar Sebuah Keikhlasan



“Mencari pengalaman, ingin bermanfaat bagi orang lain, dan sebagai wujud pengabdian terhadap bangsa.” Itulah jawabanku ketika aku ditanya mengenai alasanku mendaftar sebagai Pengajar Muda_ Indonesia Mengajar. Namun kini aku ragu dengan pernyataanku tersebut, lebih tepatnya mungkin niatku sudah sedikit terkontaminasi. Terlebih ketika aku diperhadapkan dengan daerah penempatan dimana PM V akan mengajar. Ada sedikit rasa berharap terhadap daerah penempatan, bahkan sampai berharap siapa yang akan menjadi teman sekelompok di daerah penempatan tersebut. Apakah mungkin niatku sudah tidak lurus? Padahal dulu niatku semata-mata ingin menggali dan menginspirasi para mutiara terpendam yang ada di semenanjung republik ini, tidak peduli itu dimana dan dengan siapa. Arrrgh.... apakah ada yang salah dengan hatiku? Apakah aku masih layak menjadi Pengajar Muda?
Pagi itu daerah penempatan untuk Pengajar Muda angatan V diumumkan. Aku berusaha untuk menutupi kekhawatiranku sembari berdoa dalam hati, ya Allah, semoga engkau pilihkan bagiku teman-teman dan daerah penempatan seperti yang aku harapkan. Dan ternyata kekhawatiranku benar-benar terjadi. Untuk urusan daerah penempatan mungkin tidak ada masalah, paling tidak sedikit sesuai dengan harapanku; ditempatkan di wilayah bagian barat. Namun, sungguh di luar dugaan dan harapan, aku mendapatkan teman sepenempatan yang secara hubungan emosional kami agak jauh, meskipun ada satu orang yang aku sudah tahu karakternya dan kami agak dekat. Jika pagi itu mungkin beberapa teman tepuk tangan gembira saat mengetahui daerah penempatannya, tapi tidak denganku. Aku sedikit kecewa meskipun aku harus memaksa bibir ini agar tetap tersenyum.
Pertanyaan demi pertanyaanpun muncul di pikiranku, namun semua adalah bentuk pembelaan terhadap harapanku yang tidak terwujud. Bahkan motivasiku sempat droop pasca pengumuman tersebut. Namun aku tidak mau terlalu lama larut dalam kegalauan ini. Ingat niat awalmu Andi... Akupun berusaha mengingat kembali perkataan dari beberapa orang yang pernah menasihatiku tentang keikhlasan, kuhadirkan kembali di pikiranku pesan dari Pak Anies Baswedan ketika memberikan sambutan pada pembukaan pelatihan, dan tentunya  pesan dari Dik Doank beberapa malam yang lalu cukup menjadi “tamparan keras” bagiku. Ya, aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mengendalikan murid-muridku di sana nanti kalau mengendalikan diri sendiri saja aku tidak sanggup. Bagaimana mungkin aku bisa menginspirasi mereka jika ternyata aku sendiri yang sebenarnya membutuhkan inspirasi. Bagaimana mungkin aku bisa mengilapkan mutiara tersebut sementara aku tidak ikhlas, tidak bekerja dengan hati. Bukankah di sana nanti kami akan disebar di sekolah masing-masing. Bukankah teman yang aku harapkan bersamaku belum tentu punya keinginan yang sama denganku? Bukankah teman sekelompokku adalah orang-orang yang unik dengan kehebatannya masing-masing? Dan bukankah rencana Tuhan itu adalah sebaik-baik rencana? Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Ya, paling tidak ini semua akan semakin mendewasakan umurku. Semua akan terjawab saat nanti aku telah menjalani dan mengalami setahun di Tulang Bawang Barat. Dan akan aku ceritakan kembali nanti melalui goresanku bahwa semua yang digariskan Tuhan adalah sebuah keindahan yang terkadang kita tidak mampu memahaminya. 
Jatiluhur, 30 September 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar