Senin, 01 Oktober 2012

Tembang yang Terlupakan



Perempuan paruh baya dengan rambut di atas bahu yang beberapa helai mulai memutih itu terus menatap Dian. Tatapannya tajam, bak ikan pemanah yang hendak menerkam burung yang terbang di atasnya. Dari raut wajahnya, tampak sekali adanya kekecewaan yang sangat mendalam.
Dian mencoba meneduhkan pikirannya. Ia seperti seorang terdakwa yang belingsatan karena menerima vonis dari seorang jaksa tanpa mengetahui jelas apa kesalahannya. Diam adalah satu-satunya jalan yang  ia pilih. Sesekali Dian mengeluarkan kalimat dari mulutnya, tetapi selalu dimentahkan oleh perempuan itu.
Semua ini berawal dari _menurut perempuan itu_ kesalahan Dian saat berada di sepetak ruang itu. Sebuah kelas kecil untuk micro teaching calon Pengajar Muda V. Sebanyak 14 calon Pengajar Muda yang tergabung di kelompk Dian harus menyimulasikan teori mengajar yang sudah dipelajari selama kurang  lebih empat minggu. Dan perempuan paruh baya itu adalah Assessor yang didatangkan dari salah satu universitas ternama di ibukota.
Lagu anak-anak. Ya. Masalah tersebut bermula dari hal yang __menurut Dian__ sangat sepele, yakni lagu anak-anak. Lagu yang saat ini sudah mulai dicampakkan oleh sebagian orang, terutama anak-anak. Lagu yang dianggap kedaluarsa dan sudah tidak memiliki nilai seni. Lagu yang ketika orang melantunkannya dianggaplah sebagai orang lawas yang tidak gaul dan tidak peka terhadap perkembangan musik masa kini.
“Kamu ikut menyanyi atau saya yang keluar?” Gertak Bu Ani mengagetkan Dian.
Sontak, Dian pun langsung terperanjat dari tempat duduknya. Tercengang bercampur tidak percaya. Bu Ani yang ia lihat seperti priyayi yang lemah gemulai ternyata mampu membuat seisi ruangan terdiam, tanpa ucap, termasuk dirinya.
Sebenarnya bukan niat Dian mengabaikan perintahnya ketika ibu tersebut memerintahkan semua yang ada di ruangan tersebut melantunkan sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi cilik, Tasya, yang berjudul “Paman Datang”. Tapi memang Dian sama sekali tidak mafhum dengan lagu itu, nada maupun liriknya.
“Kalu kamu masih tidak mau menyanyi, biar saya pulang ke Jakarta saja!” kata Bu Ani semakin geram.
Dian semakin bingung. “Ssseetttt.... aku harus bagaimana?” Teriak Dian dalam gumamnya. Padahal Dian sudah bertutur pada ibu itu bahwa ia tidak hafal lagu itu. Kendatipun ia diancam dengan ancaman terkeji yang pernah ia dengar, Dian tetap tidak akan membuka mulutnya untuk melantunkan lagu itu. Atau mungkin ada yang menawarinya dengan seikat dolar agar ia mau melantunkannya, ia masih tetap pada pendiriannya, diam. “Andaikan saja pilihannya adalah aku menyanyi atau aku keluar, aku tidak akan sebingung ini, karena pilihan kedua yang pasti kuambil.” Bisik Dian kepada teman di sebelahnya.
“Maaf bu, saya benar-benar tidak hafal lagunya.” Ucap Dian lagi mencoba meyakinkan ibu itu.
Namun ibu itu tetap bergeming, seakan mengabaikan alasan yang diutarakan Dian, tatapnya semakin tajam.
“Jangan bilang tidak hafal, tapi belum hafal.” Sanggah Bu Ani sambil berjalan mendekatinya.
Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi dahi Dian,  ia pejamkan mata dan membukanya lagi, berharap  terbangun dari mimpi buruk itu. Tapi semuanya sia-sia, karena kini ia sedang berada di dunia nyata.
“Kamu akan menjadi guru, mengajar anak-anak di sana nanti, jadi kamu harus bisa memberikan contoh kepada mereka.” Imbuh Bu Ani.
Dan akhirnya Dian pun mengerti, mengapa ibu itu menghakiminya seperti itu. Hanya karena dua kata yang keluar dari mulutnya yang dianggap tidak tepat Dian gunakan, tidak hafal.
Ibu itupun terus berlanjut menceramahi Dian, mengeluarkan argumennya mengapa tidak boleh menggunakan kata itu, karena menurutnya tidak hafal itu sangat berbeda dengan belum hafal. “Jika kamu mengatakan tidak hafal, maka selamanya kamu tidak akan hafal, tapi jika kamu mengatakan belum hafal, ada kemungkinan suatu saat nanti kamu akan hafal, dan itulah karakter yang harus kamu tanamkan kepada murid-mridmu nanti.”
Sejenak Dian berpikir, “Perkataan ibu itu ada benarnya juga.” Meskipun Dian masih belum terima dengan cara penyampaian ibu itu yang __menurutnya__ menyakitkan. Memang tidak sedikit guru zaman sekarang yang terlalu dini memvonis muridnya bodoh, malas, nakal, idiot, dan sifat-sifat jelek lainnya. Vonis seperti itulah yang tidak akan membangun karakter positif siswa, justru sebaliknya akan membunuh karakter mereka.
Ya, apa yang kerap masuk ke dalam telinga anak-anak, itulah yang akan tertanam kuat di alam bawah sadar mereka dan membentuk sebuah karakter. Seperti halnya lagu, jika sedari mungil lagu yang didengar adalah lagu pop, rock, boy band, girl band, dan lagu-lagu dewasa lain, maka bisa dipastikan mereka akan merasa asing jika mendengar lagunya Tasya, Joshua, atau Trio Wek-wek. Dan itulah yang menimpa Dian, terlahir sebagai bocah yang jarang bersentuhan dengan lagu anak-anak, alhasil tidak lebih dari setengah lusin jumlah lagu anak yang ia hafal.
“Mulai sekarang kamu harus mulai menghafal lagu anak-anak, bagaimana mungkin mau mengajar anak SD jika lagu anak-anak saja tidak hafal.” Ucap Bu Ani menyudahi ceramahnya sambil kembali ke tempat duduknya.
Belakangan baru Dian tersadar, betapa indahnya lagu anak-anak itu. Sebut saja lagu “jangan takut gelap” nya Tasya yang mengajarkan kepada anak-anak agar senantiasa berdoa sebelum terlelap, mengajak anak-anak agar mencintai kampung halaman melalui tembang “desaku yang kucinta”, atau belajar menghormati guru melalui “hymne guru”. Ah, lagu-lagu itu kini kian terhempaskan, terusir dari dunia anak, berganti dengan lagu cengeng, lagu romantisme yang mendayu-dayu yang __seharusnya__ belum waktunya anak-anak dengar. Kini ia (baca: lagu anak) sedang menangis lirih, berharap mendapatkan __kembali__ belaian lembut dari anak-anak. Jangan bertanya tentang lagu wajib nasional, karena tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup atau sudah terkubur bersama jasad para pahlawan. Entahlah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar