Senin, 04 Februari 2013

Sholat Jenazah Pertamaku di Kampung Pengabdian



Pagi itu aku dikejutkan dengan suara lelaki dari balik pintu yang memanggil-manggil bapak housefamku. Dari nafasnya yang terdengar tersengal, sepertinya ada kabar yang teramat penting yang hendak ia sampaikan kepada bapak.
“Pak Imam... Pak Imam...”. Panggil lelaki itu sembari memukulkan tangannya ke punggung pintu rumah.
            “Siapa pagi-pagi buta begini sudah teriak-teriak?”. Gumamku.
Saat kuarahkan pandanganku ke arah jam, terlihat jarum pendeknya masih berada di antara angka lima dan enam. Kondisi yang masih cukup gelap untuk wilayah Sumatera. Tak lama kemudian terdengar bapak berjalan menuju sumber suara itu.
“O mas Fajar to, ada apa mas?” Tanya bapak sambil membuka pintu.
“Minta maaf ini Pak pagi-pagi sudah mengganggu. Anu Pak.. mau minta tolong”.
“Minta tolong apa?” Tanya Pak Imam penasaran.
“Anaknya mas Joko yang baru lahir meninggal Pak, jadi minta tolong agar Pak Imam mengumumkannya ke masyarakat, sekaligus nanti minta tolong Pak Imam membantu mengurus jenazahnya”. Pinta Mas Fajar yang merupakan adik kandung dari Pak Joko.
Bapak adalah salah seorang warga yang ditokohkan di kampung ini, sehingga sudah menjadi kebiasaan jika ada pengumuman apapun yang hendak disampaikan kepada masyarakat, bapaklah yang menjadi penyambung lidah melalui pengeras suara yang ada di surau kecil yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah. Melalui pengeras suara sederhana itu, beritapun dengan cepatnya menyebar ke seluruh telinga masyarakat, termasuk berita berpulangnya anak Pak Joko.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi aku telah berada di rumah Pak Joko. Aku menawarkan diri untuk ikut melayat saat bapak hendak berangkat.
“Saya kan sudah menjadi warga sini Pak, jadi harus ikut membantu jika ada warga lain yang membutuhkan bantuan”. Ucapku meyakinkan bapak.
“Mari bapak-bapak sekalian, kita sholatkan jenazahnya.” Ucap Pak Sahid setelah selesai mengurus segala sesuatunya.
Pak Sahid adalah tokoh agama di kampung ini. Lelaki paruh baya yang bertubuh kecil dan berjenggot ini adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk mengurus masjid dan juga mengurus beberapa masalah agama lainnya, termasuk menikahkan orang dan mengurus jenazah. Terkadang aku sedikit merasa iba dengannya, karena ia tak mendapatkan upah apapun dari jasanya tersebut. Ia hanya diingat kalau sekiranya jasanya akan dibutuhkan.
Sekitar sepuluh menit menunggu, jumlah orang yang mau menyolatkan tak kunjung bertambah. Pak Sahidpun terlihat bingung ketika hendak mengatur shaf. Dari gerak-geriknya ia ingin mengatur barisan menjadi tiga shaf, merujuk pada Hadits Nabi yang mengatakan apabila jenazah disholatkan minimal tiga shaf, maka doanya akan dikabulkan. Tapi sepertinya keinginan tersebut takkan terwujud, mengingat di ruangan itu hanya terdapat empat orang yang sudah siap untuk menyolatkan, Pak Imam, aku, ayah almarhum, dan Pak Sahid sendiri. Padahal di luar rumah ada sekitar dua puluhan orang sedang duduk-duduk sambil mengisap benda kecil berkepala api yang melekat di sela-sela jari tangannya. Entahlah. Apakah mereka tidak bisa atau mungkin mereka belum tahu hukum dan keutamaan sholat jenazah.
Sepulang dari melayat, aku duduk termenung dan kembali memikirkan kejadian yang baru saja kualami. Tentang sholat jenazah yang masih terasa asing bagi sebagian besar masyarakat di perkampungan ini. Jika memang mereka tidak ikut melaksanakan sholat jenazah dikarenakan tidak bisa, apakah itu sepenuhnya salah mereka? Kalau bukan salah mereka, lantas siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan? Kalaupun seandainya mereka bisa namun masih enggan mengerjakannya karena tidak mengetahui keutamaannya, siapa juga yang harus disalahkan. Sementara jika kita menengok perilaku para pemuka agama di negeri ini, terutama mereka yang ada di departemen agama, mereka hanya sibuk mengurus perbedaan-perbedaan kecil yang justru dapat memecah belah ummat. Bukankah lebih baik jika mereka terjun langsung ke lapangan untuk sekadar mengajarkan ajaran Tuhan bagi mereka yang masih jarang tersentuh ilmu agama. Tapi tidak. Mengajarkan ilmu agama bukan hanya tugas para da’i atau pemuka agama, namun adalah tugas bagi setiap individu yang telah mendapatkan pengetahuan tentangnya. Mendidik adalah tugas setiap yang orang terdidik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar