Kamis, 28 Februari 2013

Kisah Delapan (Calon) Ahli Sains dari HTI




Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit, lima belas menit lagi lonceng akan dibunyikan yang menandakan pengerjaan soal Olimpiade Sains Kuark resmi dimulai. Namun kedelapan anak itu belum juga muncul. Sambil membagikan soal ke masing-masing pengawas di setiap ruangan, sesekali pandanganku kuarahkan ke pintu gerbang sekolah, berharap ada rombongan motor yang datang membawa kedelapan anak itu. Namun sampai lima menit berselang, aku tetap tidak mendapati tanda-tanda kedatangan kedelapan anak itu.
Kedelapan anak itu adalah murid-murid SDS Terang Agung yang akan mewakili sekolahnya untuk mengikuti Olimpiade sains tingkat nasional itu. Satu anak level satu, level tiga dua anak, dan sisanya level dua. Merekalah yang akan mewakili sekitar sembilan puluhan anak di sekolahnya. Sekadar ingin membuktikan bahwa meskipun mereka hidup di daerah terpencil, mereka mampu bersaing dengan murid-murid di sekolah lain.
Pukul delapan lewat dua puluh menit, dan kedelapan anak itu belum juga terlihat. Akupun mulai sedikit gusar, entah apa yang terjadi pada mereka. Pikirankupun semakin tak karuan. Padahal sehari sebelumnya aku sudah menyampaikan kepada mereka agar datang sebelum jam setengah delapan, karena harus mengurus daftar ulang dan hal-hal kecil lainnya.
Pagi itu, diantara seratus tiga belas peserta di kecamatan itu, tinggal delapan anak dari SDS Terang Agunglah yang belum datang, sementara peserta lain sudah berada di dalam ruangan dan telah bersiap untuk mengisi biodata di LJK.
“Mas Andi, mana murid-muridnya?” Beberapa kali pengawas bertanya kepadaku.
“Tunggu sebentar lagi ya Bu.” Jawabku meyakinkan.
Mungkin karena jarak SDS Terang Agung yang berada di kawasan HTI (Hutan Tanaman Industri) tersebut paling jauh dengan lokasi olimpiade dibanding sekolah-sekolah lain, sehingga mereka belum juga datang. Untuk sampai ke tempat olimpiade, murid-murid SDS Terang Agung tersebut harus menempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor melewati kebun karet. Ditambah lagi mereka harus melalui jalan yang nyaris tak berbentuk karena diguyur hujan beberapa hari.
Akan sangat disayangkan apabila mereka terlambat atau bahkan tidak jadi datang. Akan terasa sia-sia perjuangan mereka selama ini. Selama dua bulan terakhir ini, mereka selalu terlihat bersemangat mengikuti les yang rutin dilaksanakan setiap harinya. Usai pulang sekolah, tak lama kemudian mereka telah berada di depan rumahku dengan membawa komik kuarknya. Mereka tak peduli kendatipun harus melalui jalan berlumpur tiap harinya, meskipun terkadang aku batalkan jadwal les dikarenakan ada urusan lain yang harus aku selesaikan di luar desa. Tapi mereka tetap tak patah semangat, dan semangat itulah yang membuatku tak rela jika mereka harus gugur sebelum berperang. Semangat anak kampung yang mungkin tak dimiliki oleh anak-anak yang hidup di kota-kota besar. Benarlah apa yang dikatakan oleh Anies Baswedan, bahwa berada di atas sering memudahkan seseorang untuk bermimpi, dan berada di bawah itu sering membuat bermimpi itu jadi mimpi tersendiri.
Di tengah kegelisahanku tersebut, saat seluruh peserta se-Indonesia siap mengerjakan soal, tiba-tiba dari ujung gerbang terlihat lima buah sepeda motor memasuki halaman sekolah. Perlahan akupun mengenali wajah mereka. Itu mereka. Teriakku dalam hati. Akhirnya kedelapan anak itupun tiba dengan diantar oleh orang tua mereka, sebagian terlihat bonceng tiga, mungkin orang tuanya tak sempat mengantar. Akhirnya mereka masih punya waktu beberapa menit untuk daftar ulang dan mengisi biodata di LJK. Sungguh peristiwa yang mengingatkan pada sesosok Lintang dalam film laskar pelangi, dimana ia hampir saja terlambat mengikuti lomba dikarenakan dihadang buaya di tengah perjalanannya.
Satu hal lagi yang membuatku cukup heran dari kejadian itu, sebagian dari mereka datang dengan ditemani orang tua mereka. Mungkin itu hal biasa bagi sebagian besar orang, tapi tidak untuk masyarakat di dusun Terang Agung. Biasanya para orang tua lebih memilih menyadap getah karet ketimbang mengurus pendidikan anaknya. Mereka akan merasa rugi besar jika sehari saja tak mengambil getah karet yang merupakan mata pencaharian utama mereka. Mungkin saja hati mereka telah tergugah. Atau mungkin juga karena tidak ada pilihan lain bagi mereka, karena jika bukan mereka siapa lagi yang akan mengantar. Jelas tak mungkin jika mengharapkan guru-guru di sekolah mau mengantar, karena di sekolah tempat mereka belajar hanya ada lima orang guru, dan kelima-limanya adalah perempuan yang mempunyai anak kecil. Tapi yang jelas, kehadiran orang tua murid tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku, kebahagiaan karena menyaksikan orang tua yang mulai tergerak hatinya untuk membantu mewujudkan cita-cita anaknya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar