Senin, 15 April 2013

Ketika Pendidikan Tak Lagi Menjanjikan



Banyak teori yang menyatakan tentang tujuan pendidikan berikut manfaatnya. Mulai dari istilah pendidikan untuk memanusiakan manusia, menjadikan manusia dari tidak tau menjadi tahu, sampai pada manfaat pendidikan yang dapat mengangkat derajat hidup manusia. Namun itu semua tidak berlaku di kampung Terang Agung ini. Sebuah dusun kecil di Kecamatan Gunung Terang Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Semua teori tersebut tidak mampu diterima oleh masyarakat di sini, semua dimentahkan, bukan dengan teori dari ilmuwan lain yang lebih kuat, melainkan dengan pengalaman nyata mereka. pengalaman yang telah teruji. Seakan mereka sudah tak lagi percaya dengan yang istilah yang bernama pendidikan, semua hanya omong kosong, palsu.
Mereka bukan kecewa, bukan pula karena mereka tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk sekolah. Tapi semua itu lebih kepada ketidak percayaan mereka terhadap istilah yang identik dengan Ki Hajar Dewantara tersebut. Memang ada yang terkendala masalah biaya, tapi itu hanya sepersekian saja. Justru yang menjadi alsan mendasar adalah sebagian besar dari mereka merasa sudah sangat nyaman dengan kehidupan yang mereka jalani, meskipun tanpa pendidikan. Secara ekonomi, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani karet ini mempunyai penghasilan yang terbilang cukup tinggi. Tiap hektarnya, pohon karet yang biasanya dipanen tiap dua hari sekali tersebut mampu mengeluarkan getah sekitar kurang lebih 40 kg, dengan harga perkilonya berkisar Rp.6000 – Rp. 8.000. Dengan demikian dalam sebulan mereka mampu mendapatkan uang melebihi gaji PNS golongan IIIA. Belum lagi di antara mereka juga memiliki kebun singkong__untuk produksi etanol__ yang sangat luas. Alhasil, meskipun di pedalaman, setiap rumah di kampung ini telah memiliki motor yang sebagian bahkan lebih dari satu, dan hampir semua rumah memiliki televisi meskipun kampung tersebut belum dijamah PLN.
Sekali lagi bukan masalah uang, tapi ini masalah perspektif. Mereka  menganggap pendidikan tidaklah penting. Tak sepenting kebun karet mereka. Mereka beranggapan bahwa pendidikan tidak mampu memberikan jaminan terhadap kelangsungan hidup mereka, juga anak cucu mereka. Justru sebaliknya, dengan mengirim anak mereka ke sekolah berarti mereka telah melakukan sebuah kerugian. Kerugian dari segi finansial maupun waktu. Jika saja waktu yang digunakan untuk sekolah dimanfaatkan untuk menyadap karet, sudah berapa untung yang mereka dapatkan. Dan itulah yang menurut mereka lebih menjanjikan, ketimbang harus membuang-buang uang untuk masa depan yang tidak jelas.
Memang tidak semua masyarakat di sini berpikiran seperti itu. Namun bisa dipastikan hampir 90% berpendapat bahwa pendidikan itu tidak penting. Dengan adanya anggapan seperti itu membuat anak-anak usia sekolah di kampung ini enggan untuk mengenyam pendidikan. Menurut mereka wajib belajar hanyalah sampai lulus SD. Oh.. bukan. Bukan wajib, tapi sunnah. Karena masih banyak di antara mereka yang enggan menyekolahkan anaknya, meskipun hanya SD. Dan bagi mereka yang menyekolahkan anaknya-pun terlihat kurang serius dalam mendukung pendidikan anaknya, mungkin hanya karena malu kepada tetangganya, atau hanya sekadar menggugurkan yang sunnah tadi. Sehingga tak jarang murid-murid SD di kampung ini tidak berangkat ke sekolah hanya karena alasan sepele; turun hujan, mau pergi ke pasar, ada hajatan, atau bahkan  diminta membantu orang tuanya bekerja.
Dengan kondisi seperti ini bisa dipastikan murid-murid SD di kampung ini banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi usai lulus kelas 6. Ini sudah hampir menjadi tradisi yang sulit dicabut karena telah mengakar. Selain karena alasan di atas tadi, jarak juga menjadi alasan mereka. Untuk sampai ke SMP, harus menempuh sekitar setengah jam perjalanan menggunakan motor. Bukannya mereka tidak punya motor, tapi mereka lebih memilih menggunakan motor mereka untuk pergi ke kebun. Namun semua itu hanyalah untuk menguatkan pendapat mereka bahwa pendidikan tidaklah penting. Sehingga di dusun ini siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP bisa dihitung jari.
Entah siapa yang salah. Semua salah, atau mungkin tidak ada yang salah. Ini hanya masalah perspektif saja. Tapi bukankah pendidikan itu tidak hanya untuk meningkatkan taraf hidup dari segi finansial saja? Karena disadari atau tidak, tanpa pendidikan kita tidak akan mampu menjalankan peran kita sebagai manusia dengan sempurna. Terlebih manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Tentunya dengan pendidikanlah kita mampu dan layak menyandang predikat tersebut. Kalaupun harus dinilai secara komersil, orang yang berpendidikan tidak akan pernah hidup kelaparan, kendatipun ia tidak memiliki kebun karet yang luas. Jikapun ada, itu adalah orang malas yang tidak mau mengaplikasikan ilmunya. Dan yang paling penting adalah bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak bergantung pada alam seperti halnya SDA. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pemahaman seperti ini mungkin akan sangat mudah diterima oleh kalangan orang-orang yang terdidik, tapi tidak untuk mereka yang hidup jauh dari hiruk-pikuk kota yang terdidik langsung oleh alam. Sehingga ini menjadi tugas bersama bangsa ini untuk berupaya menyadarkan mereka akan pentingnya pendidikan. Secara konstitusi ini adalah tugas pemerintah, namun secara hierarki ini merupakan tugas setiap orang yang terdidik. Mungkin dengan hadirnya inspirator pendidikan akan mampu mengubah pola pikir mereka.

“Menyumbang uang itu baik, memberikan buku itu bermanfaat, membangun fasilitas pendidikan itu mulia. Namun, iuran terbesar dan terpenting dalam pendidikan adalah kehadiran. Hadirnya inspirator merupakan iuran terbesar dalam pendidikan.” Anies Baswedan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar